Sering kecewa karena kehabisan baterai laptop lebih cepat dari biasanya?
Coba Anda menggunakan software penghemat baterai laptop yang diberi nama Software Battery Doubler . Dengan teknologi Turbo Charge, software ini dapat menghemat baterai laptop hingga 10 persen, dapat mematikan apa yang tidak diperlukan, seperti port USB, tanpa mengorbankan kenyamanan Anda ketika menggunakan laptop.
Software Battery Doubler ini mudah digunakan, dapat melihat konfigurasi indikator status baterai, dan support untuk sistem operasi Microsoft Windows.(bisa download di (http://92904f62.linkbucks.com/)
Read More
Iklan

Masukkan Code ini K1-6DBFA4-3
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com
http://Kumpulblogger.com/signup.php?refid=90878
Juara 3 Blog Pelajar KATEGORI PELAJAR | Topik Konservasi
Nama : Ina Dianingtyas
Domisili : Cibinong – Bogor – Jawa Barat
BERSAHABAT DENGAN BUMI
Halo teman-teman! Gimana nih kabar kalian? Baik-baik aja dong pastinya? Mudah-mudahan baik-baik saja, hehe. Eh ya, aku mau tanya nih sama kalian! Kalian sadar gak sih kalau akhir-akhir ini ada perubahan iklim yang terjadi di Bumi kita yang tercinta ini? Kalau aku sih kerasa banget perubahannya. Contohnya nih, di musim kemarau seperti ini saja masih ada saja hujan yang turun sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan lamanya. Begitu juga sebaliknya. Ini semua karena Bumi sedang mengalami perubahan iklim .
Lalu, kalian pasti lagi bertanya-tanya nih. Sebenarnya, apa sih perubahan iklim itu? Kalau menurut aku, perubahan iklim adalah perubahan kondisi fisik atmosfer Bumi yang tak lain dapat menyebabkan iklim jadi tidak menentu, dan juga menimbulkan kekacauan di berbagai bidang, terutama pada sektor kehidupan manusia. Nah, itu lah penjelasannya teman-teman. Kalian mau tau juga gak kenapa perubahan iklim ini bisa terjadi? Kalau ya, aku bakal jelasin lagi nih, hehe.
perubahan iklim bisa terjadi sebagian besar karena ulah manusia juga, lho! Contohnya yang paling sederhana nih, yaitu buang sampah. Hayoo, siapa nih yang buat sampah sembarangan? Mudah-mudahan gak ada ya! Ok lanjut, aku mau nanya lagi nih! Kenapa sih sampah bisa dijadikan salah satu penyebabnya perubahan iklim ? Jawabannya, yaitu karena sampah dapat menyumbangkan gas rumah kaca dalam bentuk metana (CH4) dan karbondioksida (CO2). Dan contoh yang lain, dikarenakan pemanfaatan energi yang sangat berlebihan! Terutama energi fosil, karena energi ini merupakan penyebab utama terjadinya perubahan iklim secara global. Hutan yang gundul karena penebangan liar pun juga menyumbang terjadinya perubahan iklim . Semua kegiatan itu menambah jumlah Gas Rumah Kaca (GRK) yang dilepaskan ke atmosfer secara signifikan serta fungsi hutan sebagai penyerap emisi GRK. Hmm, setelah tahu tentang penyebab terjadinya perubahan iklim , pasti kalian bertanya-tanya nih, apa sih dampak dari perubahan iklim itu?
Dampaknya yang terjadi pada kehidupan manusia antara lain:
- Kesehatan Menurun
Karena suhu yang tak menentu, dapat menimbulkan kekurangan gizi, penyakit diare, penyakit karena infeksi, kekeringan, demam panas tinggi, dan berbagai penyakit lainnya.
- Persediaan Air Menipis
Suhu yang naik karena pemanasan global, dapat meningkatkan kekeringan di beberapa wilayah ekuator dan kualitas air semakin menurun. Naiknya air laut juga akan memperluas pengasinan air tanah, sehingga dapat menurunkan persediaan air tawar bagi daerah-daerah yang berada di pesisir pantai. Karena hal inilah yang membuat ratusan juta orang akan menghadapi kekurangan air.
- Mencairnya Lapisan Es Greenland
Nah, ini dia nih yang parah. Sekarang saja lapisan es di Kutub Utara sudah mulai mencair! Penyebabnya karena kenaikan suhu yang sangat tinggi. Jika suhu selalu naik, maka akan mencairkan sebagian besar es dan akan mengakibatkan air laut akan semakin naik setinggi 2 sampai dengan 7 meter lebih selama berabad-abad bahkan hingga ribuan tahun lamanya!
- Angin Topan
Kenaikan suhu yang mencakup sampai 2ºC akan mengakibatkan angin topan kategori 4 sampai 5.
- Banjir Bandang
Banjir bandang terjadi karena makin seringnya peningkatan intesitas hujan.
Sebetulnya masih banyak lagi lho contoh-contoh lainnya akibat perubahan iklim ini. Itu semua karena ulah manusia sendiri. Maka dari itu, jangan biarkan tangan kalian mengotori Bumi kita yang paling kita cintai ini. Bumi sudah memberikan kita lingkungan kehidupan yang asri, jadi kenapa kita harus merusaknya? Harusnya, kita menjaga dan merawatnya dengan baik.
Bumi sudah sangat bersahabat dengan kita, maka kita juga harus bersahabat dengan Bumi! Tapi, Bagaimana caranya? Tenang, aku punya tips lho agar kita bisa bersahabat dengan Bumi dan mempertipis terjadinya perubahan iklim! Contohnya ini nih yang gampang dan bisa dipraktekan oleh kita sehari-hari;
- Mematikan peralatan elektronik yang menganggur atau lagi tidak dipakai. Misalnya kalian lagi main komputer nih, terus TV nya nyala juga. Bukankah lebih baik pilih salah satu saja? Lagi pula susah kan membagi-bagi konsentrasi, hehe.
- Memperbanyak penghijauan. Nah, agar Bumi kita semakin asri, lebih baik jika kita menanam beberapa tanaman. yang kecil-kecil saja dulu.
- Membuang sampah pada tempatnya. Hayoo, buat kalian atau bahkan yang lain pasti sudah terbiasa membuang sampah tidak pada tempatnya kan? Makanya, rubahlah kebudayaan itu dari dalam diri kalian. Hal sekecil ini pun bisa dikategorikan sebagai perbuatan yang bersahabat dengan Bumi lho!
- Mengurangi pemakaian plastik. Ini nih, kalau misalkan kalian mau belanja di pasar atau di tempat lain, aku sarankan lebih baik kalian membawa tas belanja sendiri.
- Berhentilah merokok dan meminum minuman yang beralkohol. Nah, buat kaum laki-laki nih yang biasanya sering rokok. Cobalah kalian berhenti merokok atau meminum minuman beralkohol. Selain rugi dengan diri sendiri, hal ini juga merugikan Bumi lho. Lebih baik memperbanyak minum air mineral saja.
Nah, itu dia hal kecil yang sebaiknya kalian lakukan agar lebih sahabat dengan Bumi. Masih banyak cara-cara yang lain, dan akan kalian pelajari sedikit demi sedikit nantinya. Oke, setelah membaca artikel diatas, gimana perasaan kalian? Apa kah hati kalian tergerak untuk bersahabat dengan Bumi? Atau bahkan mau mengajak teman-teman kalian untuk berperan dalam mempertipis kemungkinan terjadinya perubahan iklim? Dengan semakin banyaknya orang-orang yang bersahabat dengan Bumi, maka perubahan iklim pun sedikit demi sedikit akan termusnahkan keberadaanya. Dan ingat nih, yang paling penting adalah kesadaran kita untuk menjaga Bumi kita ini. Kalau kita sudah sadar dan mempraktekannya, maka kita juga harus mengajak orang lain untuk bersahabat dengan Bumi kita juga.
Dimulailah dari diri kita sendiri, dan ajak lah teman kita!
Save Our Earth! Read More
Domisili : Cibinong – Bogor – Jawa Barat
BERSAHABAT DENGAN BUMI
Halo teman-teman! Gimana nih kabar kalian? Baik-baik aja dong pastinya? Mudah-mudahan baik-baik saja, hehe. Eh ya, aku mau tanya nih sama kalian! Kalian sadar gak sih kalau akhir-akhir ini ada perubahan iklim yang terjadi di Bumi kita yang tercinta ini? Kalau aku sih kerasa banget perubahannya. Contohnya nih, di musim kemarau seperti ini saja masih ada saja hujan yang turun sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan lamanya. Begitu juga sebaliknya. Ini semua karena Bumi sedang mengalami perubahan iklim .
Lalu, kalian pasti lagi bertanya-tanya nih. Sebenarnya, apa sih perubahan iklim itu? Kalau menurut aku, perubahan iklim adalah perubahan kondisi fisik atmosfer Bumi yang tak lain dapat menyebabkan iklim jadi tidak menentu, dan juga menimbulkan kekacauan di berbagai bidang, terutama pada sektor kehidupan manusia. Nah, itu lah penjelasannya teman-teman. Kalian mau tau juga gak kenapa perubahan iklim ini bisa terjadi? Kalau ya, aku bakal jelasin lagi nih, hehe.
perubahan iklim bisa terjadi sebagian besar karena ulah manusia juga, lho! Contohnya yang paling sederhana nih, yaitu buang sampah. Hayoo, siapa nih yang buat sampah sembarangan? Mudah-mudahan gak ada ya! Ok lanjut, aku mau nanya lagi nih! Kenapa sih sampah bisa dijadikan salah satu penyebabnya perubahan iklim ? Jawabannya, yaitu karena sampah dapat menyumbangkan gas rumah kaca dalam bentuk metana (CH4) dan karbondioksida (CO2). Dan contoh yang lain, dikarenakan pemanfaatan energi yang sangat berlebihan! Terutama energi fosil, karena energi ini merupakan penyebab utama terjadinya perubahan iklim secara global. Hutan yang gundul karena penebangan liar pun juga menyumbang terjadinya perubahan iklim . Semua kegiatan itu menambah jumlah Gas Rumah Kaca (GRK) yang dilepaskan ke atmosfer secara signifikan serta fungsi hutan sebagai penyerap emisi GRK. Hmm, setelah tahu tentang penyebab terjadinya perubahan iklim , pasti kalian bertanya-tanya nih, apa sih dampak dari perubahan iklim itu?
Dampaknya yang terjadi pada kehidupan manusia antara lain:
- Kesehatan Menurun
Karena suhu yang tak menentu, dapat menimbulkan kekurangan gizi, penyakit diare, penyakit karena infeksi, kekeringan, demam panas tinggi, dan berbagai penyakit lainnya.
- Persediaan Air Menipis
Suhu yang naik karena pemanasan global, dapat meningkatkan kekeringan di beberapa wilayah ekuator dan kualitas air semakin menurun. Naiknya air laut juga akan memperluas pengasinan air tanah, sehingga dapat menurunkan persediaan air tawar bagi daerah-daerah yang berada di pesisir pantai. Karena hal inilah yang membuat ratusan juta orang akan menghadapi kekurangan air.
- Mencairnya Lapisan Es Greenland
Nah, ini dia nih yang parah. Sekarang saja lapisan es di Kutub Utara sudah mulai mencair! Penyebabnya karena kenaikan suhu yang sangat tinggi. Jika suhu selalu naik, maka akan mencairkan sebagian besar es dan akan mengakibatkan air laut akan semakin naik setinggi 2 sampai dengan 7 meter lebih selama berabad-abad bahkan hingga ribuan tahun lamanya!
- Angin Topan
Kenaikan suhu yang mencakup sampai 2ºC akan mengakibatkan angin topan kategori 4 sampai 5.
- Banjir Bandang
Banjir bandang terjadi karena makin seringnya peningkatan intesitas hujan.
Sebetulnya masih banyak lagi lho contoh-contoh lainnya akibat perubahan iklim ini. Itu semua karena ulah manusia sendiri. Maka dari itu, jangan biarkan tangan kalian mengotori Bumi kita yang paling kita cintai ini. Bumi sudah memberikan kita lingkungan kehidupan yang asri, jadi kenapa kita harus merusaknya? Harusnya, kita menjaga dan merawatnya dengan baik.
Bumi sudah sangat bersahabat dengan kita, maka kita juga harus bersahabat dengan Bumi! Tapi, Bagaimana caranya? Tenang, aku punya tips lho agar kita bisa bersahabat dengan Bumi dan mempertipis terjadinya perubahan iklim! Contohnya ini nih yang gampang dan bisa dipraktekan oleh kita sehari-hari;
- Mematikan peralatan elektronik yang menganggur atau lagi tidak dipakai. Misalnya kalian lagi main komputer nih, terus TV nya nyala juga. Bukankah lebih baik pilih salah satu saja? Lagi pula susah kan membagi-bagi konsentrasi, hehe.
- Memperbanyak penghijauan. Nah, agar Bumi kita semakin asri, lebih baik jika kita menanam beberapa tanaman. yang kecil-kecil saja dulu.
- Membuang sampah pada tempatnya. Hayoo, buat kalian atau bahkan yang lain pasti sudah terbiasa membuang sampah tidak pada tempatnya kan? Makanya, rubahlah kebudayaan itu dari dalam diri kalian. Hal sekecil ini pun bisa dikategorikan sebagai perbuatan yang bersahabat dengan Bumi lho!
- Mengurangi pemakaian plastik. Ini nih, kalau misalkan kalian mau belanja di pasar atau di tempat lain, aku sarankan lebih baik kalian membawa tas belanja sendiri.
- Berhentilah merokok dan meminum minuman yang beralkohol. Nah, buat kaum laki-laki nih yang biasanya sering rokok. Cobalah kalian berhenti merokok atau meminum minuman beralkohol. Selain rugi dengan diri sendiri, hal ini juga merugikan Bumi lho. Lebih baik memperbanyak minum air mineral saja.
Nah, itu dia hal kecil yang sebaiknya kalian lakukan agar lebih sahabat dengan Bumi. Masih banyak cara-cara yang lain, dan akan kalian pelajari sedikit demi sedikit nantinya. Oke, setelah membaca artikel diatas, gimana perasaan kalian? Apa kah hati kalian tergerak untuk bersahabat dengan Bumi? Atau bahkan mau mengajak teman-teman kalian untuk berperan dalam mempertipis kemungkinan terjadinya perubahan iklim? Dengan semakin banyaknya orang-orang yang bersahabat dengan Bumi, maka perubahan iklim pun sedikit demi sedikit akan termusnahkan keberadaanya. Dan ingat nih, yang paling penting adalah kesadaran kita untuk menjaga Bumi kita ini. Kalau kita sudah sadar dan mempraktekannya, maka kita juga harus mengajak orang lain untuk bersahabat dengan Bumi kita juga.
Dimulailah dari diri kita sendiri, dan ajak lah teman kita!
Save Our Earth! Read More
Juara 2 Blog Pelajar KATEGORI PELAJAR | Topik Konservasi
Nama : A. Dzaki Nuhaiz AS
Domisili : PP. Annuqayah Guluk-guluk Sumenep – Jawa Timur
Bicara soal iklim
Gila, bumi makin panas, dan panasnya ini sudah keterlaluan. Sangat keterlaluan. Panas yang sudah diluar kebiasaan ini membuat saya penasaran sehingga saya ketik "bumi makin panas" di google sebagai keyword-nya. 0,15 detik kemudian munculah 308,000 opini, berita, dan lain sebagainya. Banyak postingan-postingan menarik mengenai keyword yang saya ketik di google, tapi ada 1 postingan yang paling menarik perhatian saya: suhu bumi meningkat 1 derajat fahrenheit atau sekitar 0.6 (ada yang mengatakan 0,74) derajat celsius selama seabad terakhir.
Fakta lain yang membuat saya ngeri adalah Indonesia termasuk penghasil emisi "gas rumah kaca" terbesar setelah AS dan Cina. Karbondioksida, metan, nitro oksida, dan gas-gas pencemar lainnya terlepas dalam jumlah yang amat besar ke udara, mengental, dan menyesaki atmosfer bumi. Maka terjadilah "Efek rumah kaca" tersebut: panas matahari yang diterima bumi tidak dapat lagi dipantulkan keluar dari atmosfer sesuai hukum alam karena membentuk selubung gas-gas pencemar tersebut. Pada titik ini munculah pemanasan global atau global warming. Pemanasan global inilah yang mendorong perubahan iklim atau climate change menjadi semakin ekstrim.
Menurut para Ilmuwan, perubahan iklim terjadi akibat aktivitas manusia dalam 2 abad terakhir yang secara vulgar dan melanggar hukum alam. Demi kenyamanan dan peningkatan taraf hidup, umat manusia--terutama di negara-negara maju--menggunakan bahan bakar fosil habis-habisan sembari menebang hutan dan mengabaikan lingkungan. Indonesia termasuk negara yang banyak terjadi penebangan liar, kebakaran hutan, pembukaan hutan untuk perkebunan, pertambangan, dan lain-lain. Sebagai negara tropis, Indonesia termasuk penyumbang utama dalam perubahan iklim sekaligus paling rentan terhadap dampak yang ditimbulkan.
Saya jadi teringat bencana Banjir yang baru saja menimpa Brazil dan Australia. tentu ini juga salah satu dampak dari perubahan iklim, sebab perubahan iklim juga meningkatkan curah hujan sekitar 2-3 persen pertahun dalam periode yang lebih pendek.
Climate change ini menjadi ancaman yang nyata bagi setiap orang dan setiap negara, utamanya terkait krisis pangan dan air bersih. Hal ini merambat pada bidang pertanian yang kemudian berdampak pada persoalan pangan dan akhirnya berujung pada masalah ekonomi, seperti naiknya harga cabe. Dalam hal ini pembaca tentu lebih tau dari saya :D
Dampak lainnya dari perubahan iklim ini berupa semakin hangatnya air laut. Ini sangat mempengaruhi keaneka ragaman kehidupan laut dan memberi tekanan lebih pada terumbu karang yang sudah terancam punah. Dan jangan lupa, perubahan iklim juga menimbulkan naiknya permukaan air laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10-25 cm (4-10 inchi) selama abad ke-20. Para ilmuan IPCC (Intergrovermental Panel On Climate Change) memperkirakan peningkatan akan bertambah sekitar 9-88 cm (4-35 inchi) pada abad ke-21. Apabila kenaikan permukaan laut mencapai 100 cm (40 inchi) maka 6 persen daerah di Belanda, 17,5 persen daerah di Bangladesh, dan ribuan pulau-pulau di dunia akan tenggelam. Mengerikan. Apalagi bagi orang yang tidak tau berenang.Prediksi saya, jika bumi tetap seperti ini, mungkin pada akhir abad atau bisa saja kurang, bumi akan menjadi dunia atlantis disebabkan mencairnya gunung-gunung es yang pada awalnya bertapa di kutub utara dan kutub selatan. Tunggu, Yang saya maksud dengan dunia atlantis disini bukanlah dunia atlantis seperti yang digambarkan di cerita-cerita fiktif itu, tapi maksudnya kota-kota di bumi ini bakal tenggelam dalam sebuah ember raksasa bernama dunia.
Nah, ketika planet bumi terkena penyakit osteoporosis stadium 3 ini, saya jadi teringat petikan lirik lagu Ebiet G. Ade:
"...Mengapa di tanahku terjadi bencana,
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita."
Lalu bagaimana cara kita menyelamatkan--atau mengobati--bumi ini? Ada banyak cara, dan sepertinya para pembaca sudah tau semua: dari 4R (Reduce, Reuse, Recycle, and Replant), hemat energi, hemat air, gunakan angkutan umum, hinggal hal yang paling sederhana: berjalan. Bukankah dengan berjalan kita turut mengurangi polusi?
Oya, bicara soal cara menyelamatkan bumi ini, saya jadi teringat akan komunitas PSG (pemulung sampah gaul) di SMA 3 Annuqayah. Komunitas kreatif ini patut di acungi jempol, Sebab selain turut menyelematkan bumi, komunitas ini mendaur-ulang plastik menjadi berbagai bentuk tas yang--jujur--keren. It's so creative, isn't it?
Sudah saatnya kita turut berperan dalam "proyek penyelamatan bumi" ini. Sekecil apapun yang kita lakukan sekarang, pasti akan berpengaruh pada masa depan. Bukankah 1000 langkah berawal dari 1 langkah?
Heal the world, save our earth :) Read More
Domisili : PP. Annuqayah Guluk-guluk Sumenep – Jawa Timur
Bicara soal iklim
Gila, bumi makin panas, dan panasnya ini sudah keterlaluan. Sangat keterlaluan. Panas yang sudah diluar kebiasaan ini membuat saya penasaran sehingga saya ketik "bumi makin panas" di google sebagai keyword-nya. 0,15 detik kemudian munculah 308,000 opini, berita, dan lain sebagainya. Banyak postingan-postingan menarik mengenai keyword yang saya ketik di google, tapi ada 1 postingan yang paling menarik perhatian saya: suhu bumi meningkat 1 derajat fahrenheit atau sekitar 0.6 (ada yang mengatakan 0,74) derajat celsius selama seabad terakhir.
Fakta lain yang membuat saya ngeri adalah Indonesia termasuk penghasil emisi "gas rumah kaca" terbesar setelah AS dan Cina. Karbondioksida, metan, nitro oksida, dan gas-gas pencemar lainnya terlepas dalam jumlah yang amat besar ke udara, mengental, dan menyesaki atmosfer bumi. Maka terjadilah "Efek rumah kaca" tersebut: panas matahari yang diterima bumi tidak dapat lagi dipantulkan keluar dari atmosfer sesuai hukum alam karena membentuk selubung gas-gas pencemar tersebut. Pada titik ini munculah pemanasan global atau global warming. Pemanasan global inilah yang mendorong perubahan iklim atau climate change menjadi semakin ekstrim.
Menurut para Ilmuwan, perubahan iklim terjadi akibat aktivitas manusia dalam 2 abad terakhir yang secara vulgar dan melanggar hukum alam. Demi kenyamanan dan peningkatan taraf hidup, umat manusia--terutama di negara-negara maju--menggunakan bahan bakar fosil habis-habisan sembari menebang hutan dan mengabaikan lingkungan. Indonesia termasuk negara yang banyak terjadi penebangan liar, kebakaran hutan, pembukaan hutan untuk perkebunan, pertambangan, dan lain-lain. Sebagai negara tropis, Indonesia termasuk penyumbang utama dalam perubahan iklim sekaligus paling rentan terhadap dampak yang ditimbulkan.
Saya jadi teringat bencana Banjir yang baru saja menimpa Brazil dan Australia. tentu ini juga salah satu dampak dari perubahan iklim, sebab perubahan iklim juga meningkatkan curah hujan sekitar 2-3 persen pertahun dalam periode yang lebih pendek.
Climate change ini menjadi ancaman yang nyata bagi setiap orang dan setiap negara, utamanya terkait krisis pangan dan air bersih. Hal ini merambat pada bidang pertanian yang kemudian berdampak pada persoalan pangan dan akhirnya berujung pada masalah ekonomi, seperti naiknya harga cabe. Dalam hal ini pembaca tentu lebih tau dari saya :D
Dampak lainnya dari perubahan iklim ini berupa semakin hangatnya air laut. Ini sangat mempengaruhi keaneka ragaman kehidupan laut dan memberi tekanan lebih pada terumbu karang yang sudah terancam punah. Dan jangan lupa, perubahan iklim juga menimbulkan naiknya permukaan air laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10-25 cm (4-10 inchi) selama abad ke-20. Para ilmuan IPCC (Intergrovermental Panel On Climate Change) memperkirakan peningkatan akan bertambah sekitar 9-88 cm (4-35 inchi) pada abad ke-21. Apabila kenaikan permukaan laut mencapai 100 cm (40 inchi) maka 6 persen daerah di Belanda, 17,5 persen daerah di Bangladesh, dan ribuan pulau-pulau di dunia akan tenggelam. Mengerikan. Apalagi bagi orang yang tidak tau berenang.Prediksi saya, jika bumi tetap seperti ini, mungkin pada akhir abad atau bisa saja kurang, bumi akan menjadi dunia atlantis disebabkan mencairnya gunung-gunung es yang pada awalnya bertapa di kutub utara dan kutub selatan. Tunggu, Yang saya maksud dengan dunia atlantis disini bukanlah dunia atlantis seperti yang digambarkan di cerita-cerita fiktif itu, tapi maksudnya kota-kota di bumi ini bakal tenggelam dalam sebuah ember raksasa bernama dunia.
Nah, ketika planet bumi terkena penyakit osteoporosis stadium 3 ini, saya jadi teringat petikan lirik lagu Ebiet G. Ade:
"...Mengapa di tanahku terjadi bencana,
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita."
Lalu bagaimana cara kita menyelamatkan--atau mengobati--bumi ini? Ada banyak cara, dan sepertinya para pembaca sudah tau semua: dari 4R (Reduce, Reuse, Recycle, and Replant), hemat energi, hemat air, gunakan angkutan umum, hinggal hal yang paling sederhana: berjalan. Bukankah dengan berjalan kita turut mengurangi polusi?
Oya, bicara soal cara menyelamatkan bumi ini, saya jadi teringat akan komunitas PSG (pemulung sampah gaul) di SMA 3 Annuqayah. Komunitas kreatif ini patut di acungi jempol, Sebab selain turut menyelematkan bumi, komunitas ini mendaur-ulang plastik menjadi berbagai bentuk tas yang--jujur--keren. It's so creative, isn't it?
Sudah saatnya kita turut berperan dalam "proyek penyelamatan bumi" ini. Sekecil apapun yang kita lakukan sekarang, pasti akan berpengaruh pada masa depan. Bukankah 1000 langkah berawal dari 1 langkah?
Heal the world, save our earth :) Read More
Juara 1 Blog Pelajar KATEGORI PELAJAR | Topik Konservasi
Nama : Muhammad Syaefudin
Domisili : Desa Sukaraja Kec. Sukaraja Kab. Bogor – jawa Barat
Perubahan Iklim VS Konservasi Alam
Melihat judul di atas kita tentu akan bertanya-tanya mengapa perubahan iklim diLAWANkan dengan konservasi alam. Hal ini tentu saja bukan tanpa alasan. Setelah ditelaah lebih jauh mengenai dampak dari perubahan iklim, ternyata perubahan iklim memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap konservasi alam. Begitu juga sebaliknya. Konservasi alam juga mempunyai peranan penting yang ternyata dapat mempengaruhi perubahan iklim yang hadir di bumi kita tercinta ini. Lalu apakah sebenarnya pengaruh itu ? Dan bagaimanakah pengaruh itu bisa terjadi ? Kira-kira siapakah yang akan menang dari peperangan ini, perubahan iklim, ataukah konservasi alam? Untuk mengetahui jawabannya mari kita bahas uraiannya satu persatu berikut ini.
Perubahan iklim merupakan suatu keadaan dimana pola iklim dunia berubah secara drastis dan tajam. Hal tersebut menyebabkan terciptanya berbagai macam fenomena cuaca yang sangat kacau dan ekstrim. Seperti curah hujan yang tinggi dan tak menentu, cuaca panas yang terus mengalami peningkatan, aliran panas dan dingin yang ekstrim di siang dan malam hari, tiupan angin yang sangat kencang, topan badai yang besar, temperatur musim dingin yang tinggi, dan lain sebagainya.
Perubahan iklim sangat berkaitan erat dengan namanya pemanasan global dan efek rumah. Karena pemanasan global-lah yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global terjadi akibat dari adanya efek rumah kaca. Hal tersebut menjadikan ketiganya tidak mungkin dipisahkan dan menjadi kontributor terbesar sebagai sumber dari adanya pengrusakan dan penghancuran kehidupan di muka bumi ini.
Pemanasan global adalah proses meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat dari adanya peningkatan efek rumah kaca yang sangat tinggi di muka bumi. Efek rumah kaca sendiri adalah proses pemanasan permukaan suatu benda langit, dalam hal ini planet bumi, akibat dari naiknya konsentrasi gas-gas rumah kaca yakni karbon dioksida (CO2), Metana (CH4), Uap air, Nitrogen Monoksida (NO), Dinitrogen oksida (N2O), dan Kloroflourokarbon (CFC) di atmosfer. Disebut efek rumah kaca dan gas rumah kaca disebabkan karena cara kerja efek rumah kaca tersebut mirip sekali dengan cara kerja gas-gas rumah kaca yang ada dalam sebuah rumah kaca atau greenhouse. Pada mulanya panas matahari yang dipancarkan ke bumi akan diserap oleh bumi dan sebagian panas lainnya akan dipantulkan kembali ke atmosfer dalam bentuk radiasi infra merah. Akan tetapi karena adanya penumpukan gas-gas rumah kaca di atmosfer, radiasi infra merah akan diserap kembali oleh gas rumah kaca tersebut untuk selanjutnya dipantulkan kembali ke permukaan bumi dalam bentuk gelombang panas sehingga membuat panas yang dipantulkan kembali ke bumi itu akan tersimpan di permukaan bumi dan menjadikan suhu permukaan bumi semakin panas dan meningkat.
Efek rumah kaca ini sebagian besar terjadi berkat adanya aktifitas manusia yang tidak ramah lingkungan. Aktifitas manusia yang tidak ramah lingkungan itu menyebabkan munculnya emisi gas-gas rumah kaca yang berkonsekuensi pada peningkatan efek rumah kaca sehingga menimbulkan terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim. Lagi-lagi manusia menjadi dalang, sumber, dan penyebab dari semua masalah lingkungan yang terjadi saat ini. Aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan yang memunculkan keluarnya emisi gas rumah kaca ke atmosfer antara lain dapat bersumber dari adanya peternakan, pembakaran bahan bakar fosil dan organik, transportasi, listrik, alat-alat elektronik, pembusukan limbah organik, lahan pertanian, dan perambahan hutan.
Industri peternakan merupakan penyumbang terbesar naiknya efek rumah
kaca di muka bumi ini. Peternakan menghasilkan emisi gas rumah kaca terbesar dengan persentase 18%. Selain itu peternakan bertanggungjawab atas sedikitnya 51% dari pemanasan global. Emisi gas rumah kaca dari industri peternakan meliputi 9% CO2, 37% CH4, 65% N2O dan sisanya adalah amonia dan CFC. Emisi gas rumah kaca tersebut berasal dari kotoran dan sendawa ternak, umumnya hewan mamalia berupa sapi, domba, atau kambing. Tidak hanya itu, pupuk yang digunakan untuk menyuburkan lahan peternakan itu, alat pendingin kulkas yang digunakan untuk menyimpan daging dan susu, serta bahan bakar fosil seperti minyak dan bensin yang mendukung industri peternakan itu juga menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca yang patut diperhitungkan.
Bahkan diketahui bahwa, untuk proses pembuatan daging sapi 1 Kg, menghasilkan emisi CO2 sebesar 36,4 Kg. 24 kali lipat lebih besar dari emisi CO2 untuk proses pembuatan 1 porsi sayur dan nasi. Hal tersebut menyebabkan emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan peternakan jauh melebihi dari emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan oleh seluruh transportasi di dunia. Emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan oleh transportasi di seluruh dunia memiliki persentase 13% dengan jenis emisi gas berupa CO2. Sementara pembakaran bakar fosil dan organik seperti minyak bumi, batu-bara, limbah padat dan kayu cukup berkontribusi besar terhadap pemanasan global saat ini juga.
Penyumbang lain yang juga meningkatkan suhu rata-rata permukaan bumi kita adalah pemakaian alat-alat listrik, elektronik dan parfum. Pemakaian alat elektronik seperti ac dan kulkas, juga alat pewangi seperti parfum, akan menghasilkan emisi CFC yang akan merusak dan mengurangi lapisan ozon bumi kita. Begitu pula dengan pembusukan limbah organik di tempat pembuangan sampah (landfill) yang berupa kotoran, penggunaan alat-alat pertanian seperti pupuk dan pestisida di lahan pertanian, serta kegiatan perambahan hutan yang besar-besaran akan mengakibatkan kenaikan efek rumah kaca yang parah. Di ketahui bahwa pembusukan kotoran akan menyumbang gas rumah kaca sebesar 7% dari total emisi gas rumah kaca. Sementara emisi N2O yang dihasilkan dari pertanian menyumbang gas rumah kaca sebesar 65%.
Perambahan hutan sampai saat ini diketahui menjadi masalah dan penyebab paling parah terhadap berubahnya iklim dan rusaknya bumi ini. Kegiatan penggundulan hutan akibat aktivitas manusia yang tak ramah lingkungan dan semena-mena terhadap alam akan membuat kadar gas-gas rumah kaca di udara akan terus meningkat dan bertambah banyak. Hal tersebut terjadi karena hutan yang berfungsi sebagai penyerap gas-gas CO2 telah lenyap dan mati. Kematian hutan ini juga akan mendorong keluarnya gas-gas CO2 dari dalam tubuh pohon yang menyebabkan peningkatan terus-menerus gas rumah kaca. Penggundulan hutan ini lagi-lagi banyak disebabkan karena adanya industri peternakan. Manusia menebangi hutan untuk dijadikan pakan ternak dan ladang untuk merumput industri ternak. Salah satu bukti dari adanya masalah ini adalah penggundulan hutan di Brasil yang mencapai 80%. Hal ini tentu saja tidak boleh terjadi.
Perlu diketahui bahwa fungsi hutan tidak hanya sebagai penyerap karbon, tapi juga sebagai sebuah ekosistem alam tempat makhluk hidup di dalamnya bernaung. Seperti flora dan fauna. Flora dan fauna di hutan sangat beranekaragam jenisnya. Inilah yang dinamakan dengan keanekaragaman hayati. Kita wajib menjaga keanekaragaman hayati ini sebagai bagian dari kehidupan dan kekayaan alam yang sangat penting bagi manusia.
Oleh sebab itu, mari kita jaga dan lestarikan ekosistem hutan kita agar tidak rusak apalagi punah. Hal tersebut bisa kita lakukan dengan menggalakan program konservasi hutan yang baik dan berkelanjutan. Dengan menggalakan program ini kita dapat menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca di atmosfer bumi. Sehingga membuat pemanasan global akan berkurang dimana ini akan berkontribusi pada perubahan iklim yang kembali normal. Hal tersebut tentu saja akan menjadikan alam bumi yang kita cintai ini akan tetap lestari dan aman. Semua bentuk upaya konservasi alam baik yang berupa sumber daya alam hayati ataupun ekosistem dan habitat akan tetap terjaga kelestariannya.
Akan tetapi, ini semua tidak akan terjadi bila kita manusia masih tetap melakukan penebangan hutan secara besar-besaran. Sekalipun konservasi hutan telah digalakan, jika kita manusia masih saja berbuat onar terhadap lingkungan dengan melakukan pengrusakan hutan serta diimbangi oleh kegiatan-kegiatan tidak ramah lingkungan, maka dampak yang akan terjadi adalah perubahan iklim yang akan merusak seluruh upaya konservasi alam di muka bumi ini. Jika ini benar terjadi, seluruh ekosistem dan sumber daya alam hayati yang ada di bumi akan hancur binasa. Termasuk ekosistem hutan yang sangat penting untuk menjaga keanekaragaman hayati dan bumi kita tercinta ini.
Dampak perubahan iklim dan pemanasan global yang terjadi terhadap upaya konservasi alam dapat dibagi ke dalam 3 kategori, yaitu konservasi sumber daya alam, konservasi keanekaragaman hayati, dan konservasi ekosistem habitat.
KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM
Perubahan iklim ternyata memberikan dampak yang besar terhadap upaya pelestarian sumber daya alam berupa air, tanah, dan udara. Hadirnya berbagai macam fenomena cuaca yang ekstrim seperti cuaca yang panas, memberikan efek terjadinya kekeringan di mana-mana. Di kota-kota besar banyak sekali sumber air tawar seperti air tanah yang mengering dan habis. Hal tersebut tentu menyebabkan krisis air terjadi di berbagai belahan dunia. Akibatnya, manusia sangat sulit mendapatkan akses air bersih untuk digunakan dalam keperluan sehari-hari seperti minum, mandi, memasak, mencuci, sanitasi dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, bencana banjir yang sering terjadi akhir-akhir ini juga menyebabkan sumber-sumber air tawar banyak sekali yang tercemar. Salah satu bukti dari adanya pengaruh perubahan iklim ini adalah berkurangnya sumber air sungai di Vietnam sebesar 50% dari tahun lalu. Tidak hanya air, akan tetapi tanah dan udara juga banyak sekali yang tercemar akibat dari perubahan iklim ini. Hal ini jelas sangat berbahaya mengingat air, tanah, dan udara merupakan sumber vital bagi kehidupan di muka bumi ini.
KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI
Perubahan iklim juga berpengaruh besar terhadap konservasi keanekaragaman hayati di bumi ini. Banyak sekali hewan dan tumbuhan yang mati bahkan punah akibat dari masalah ini. Pemanasan global yang terjadi telah menekan berbagai macam spesies flora dan fauna untuk dapat beradaptasi dengan iklim yang sesuai. Temperatur udara yang terus naik membuat spesies-spesies yang tinggal di pegunungan, harus bermutasi ke daerah yang lebih tinggi agar mampu bertahan hidup. Akan tetapi hanya sedikit sekali spesies yang dapat bertahan hidup dari situasi seperti itu. Sementara spesies yang lainnya pada punah dan mati. Sebenarnya, spesies hidup saling bergantungan dengan spesies lain. Seandainya banyak spesies yang punah, maka hal itu akan sangat merusak ekosistem yang berdampak kepada punahnya spesies-spesies lain lebih banyak lagi.
Selain itu, efek pemanasan yang terus meningkat, akan menyebabkan spesies-spesies hewan cenderung bermigrasi ke arah kutub atau pegunungan. Dalam hal ini mereka bisa mati karena terhalang oleh kota-kota dan lahan pertanian. Spesies yang tidak mampu pindah atau beradaptasi juga akan musnah. Berbagai macam spesies akan punah karena adanya perubahan ekosistem yang ekstrim. Seperti ekosistem hutan hujan tropis, yang jika rusak akan berdampak pada punahnya 50% jenis spesies hewan dan tumbuhan di planet ini. Jika es di kutub utara mengalami pencairan, maka spesies di kutub utara seperti beruang kutub dan karibau juga akan punah.
Bukti dari adanya dampak perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati antara lain, burung di Inggris mengalami penurunan yang drastis akibat dari kondisi cuaca alam yang sangat ekstrim di musim dingin. Selain itu banyak sekali batu karang beraneka warna dan karang putih yang berkurang di mana-mana. Banyak bagian karang Great Barrier (karang terbesar di dunia) yang mengalami pemutihan sudah mencapai 50% akibat dari memanasnya suhu lautan. Perubahan iklim juga mengakibatkan adanya peningkatan pertumbuhan bakteri di danau Arktik akibat ganggang yang membusuk. Peningkatan populasi bakteri tersebut telah mengurangi level sulfat air dan menyebabkan melepasnya metilmerkuri yang beracun ke dalam air. Hal tersebut menyebabkan ekosistem danau Arktik menjadi terganggu dan berdampak pada rusaknya perkembangan, reproduksi dan perilaku anjing laut dan paus beluga. Selain itu, kekeringan parah di sungai Amazon Brasil telah membuat populasi lumba-lumba merah muda yang langka menurun drastis sebanyak 47% hanya dalam setahun.
KONSERVASI EKOSISTEM HABITAT
Adanya perubahan iklim jelas akan berdampak pada terganggunya usaha pelestarian ekosistem dan habitat di muka bumi. Mencairnya es di laut Arktik menyebabkan samudera mudah menyerap sinar matahari, sehingga mempercepat pencairan permafrost (tanah beku), tutupan salju, gletser, dan es laut. Dimana permafrost akan melepas gas metana hidrat yang beracun dan menyebabkan panas yang lebih parah yang akan menimbulkan hancurnya ekosistem laut dan pantai. Permafrost ini sewaktu-waktu dapat meledak menjadi banjir lautan api raksasa yang akan menimbulkan kepunahan sebagian besar kehidupan spesies laut dan darat sebesar 70%-90%.
Tidak hanya ekosistem laut dan pantai, akan tetapi perubahan iklim juga mempengaruhi banyak sekali ekosistem, seperti ekosistem danau, hutan, daratan rendah, pegunungan, rawa gambut dan lansekap (bentang alam). Konservasi habitat untuk flora dan fauna seperti suaka alam, cagar alam, dan taman hutan raya juga akan mengalami gangguan akibat dari adanya berbagai bencana alam seperti banjir, badai, angin topan, longsor dan lain-lain.
Jika ekosistem-ekosistem ini sampai rusak terutama untuk ekosistem hutan yang sangat penting untuk kehidupan di bumi ini, maka konsekuensi yang dapat diterima selain punahnya spesies adalah terjadinya perubahan iklim yang semakin parah yang sangat mengancam seluruh kehidupan makhluk hidup di bumi ini. Hal ini tentu saja tidak boleh terjadi. Oleh karena itu, sudah saatnya kita manusia bertindak dan menyelamatkan bumi ini agar tetap lestari. Kita jangan hanya berdiam diri saja dan menonton orang-orang yang sedang kesusasahan di luar sana akibat dari dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim. Sudah saatnya kita sadar, akan pentingnya bumi ini bagi kelestarian makhluk hidup di dunia. Mulailah dengan introspeksi diri dan memotivasi diri sendiri untuk dapat berubah menjadi manusia teladan sehingga kita mampu menyelamatkan bumi ini untuk masa depan kita dan anak cucu kita.
Kita dapat menyelamatkan bumi ini dengan melakukan “4 Effort, Save The Earth”. Dalam B.Indonesia artinya “4 USAHA, Selamatkan Bumi”. 4 usaha itu yakni Adaptasi, Mitigasi, Teknologi, dan Konservasi.
Adaptasi adalah suatu proses untuk memperkuat dan membangun strategi antisipasi dampak dari perubahan iklim serta melaksanakannya sehingga mampu mengurangi dampak negatif dan mengambil manfaat positifnya. Mitigasi adalah usaha pengendalian untuk mengurangi resiko akibat perubahan iklim melalui kegiatan yang dapat menurunkan emisi atau meningkatkan penyerapan gas-gas rumah kaca dari berbagai sumber emisi. Teknologi adalah upaya rekayasa suatu perangkat yang dilakukan baik dalam upaya adaptasi dan mitigasi yang mengarah pada perbaikan mutu lingkungan hidup. Konservasi adalah upaya perlindungan dan pengelolaan terhadap lingkungan dan sumber daya alam, agar tetap lestari sehingga dapat membantu kehidupan makhluk hidup di bumi.
Upaya adaptasi untuk dapat mengurangi dampak dari perubahan iklim, dapat dilakukan dengan berbagai cara. Seperti di pantai, kita dapat mengatasi kerusakan pantai dengan membuat suatu dinding penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Seandainya pantai sudah mengalami kerusakan yang parah, pemerintah dapat membantu populasi manusia di pantai untuk segera dipindahkan ke daerah yang lebih tinggi. Upaya penyelamatan satwa juga dapat dilakukan dengan cara tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya dengan baik. Karena spesies dapat perlahan-lahan berpindah menuju habitat yang lebih dingin. Untuk mencegah adanya dampak yang besar akibat dari mencairnya es di kutub utara dan selatan, pemerintah sebaiknya segera mengosongkan tanah yang belum di bangun di kutub utara dan selatan. Selain itu, untuk mengurangi dampak dari banyaknya bencana yang terjadi akibat perubahan iklim, para pakar teknologi sebaiknya membuat sebuah teknologi baru untuk dapat memonitoring bencana-bencana yang mungkin akan terjadi.
Upaya mitigasi untuk dapat menyelamatkan bumi dari perubahan iklim, dapat di lakukan sebagai berikut:
1. Jadilah Seorang Vegan!! Saatnya kita mengubah gaya dan pola hidup kita menjadi lebih efektif, gembira, dan sehat dengan menjalani pola makan vegan organik yang bebas dari konsumsi daging, susu, dan bahan hewani lainnya. Dengan menjadi vegan dan bergaya hidup vegetarian, kita telah menyelamatkan bumi dari perubahan iklim akibat dari adanya industri peternakan.
2. Terapkan Prinsip Hemat!! Saatnya kita berhemat dalam menggunakan energi dan sumber daya alam. Kita dapat menghemat energi dengan mencari energi baru seperti energi matahari dan nuklir. Dengan menggunakan energi terbaharui seperti energi nuklir, kita telah membantu mengurangi gas rumah kaca di bumi. Karena energi nuklir tidak melepaskan gas CO2 sama sekali. Selain itu kita juga harus membudayakan hidup hemat dalam menggunakan listrik dan sumber daya alam di muka bumi. Mulailah menggunakan alat-alat listrik hemat energi seperti pada lampu dan alat-alat listrik lainnya. Sudah saatnya kita juga menghemat penggunaan air dan kertas dengan memanfaatkannya secara bijaksana dan sehemat mungkin.
3. Go Ramah Lingkungan!! Mari kita jalani hidup ini dengan memprioritaskan hidup yang ramah lingkungan dan bersih. Sudah waktunya kita mengurangi gas-gas rumah kaca dengan melakukan aktivitas ramah lingkungan, seperti menghindari penggunaan plastik, membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan parfum, ac, dan kulkas yg beremisi gas CFC, dan bijaksana dalam menggunakan transportasi. Jika kita hendak bepergian jauh sebaiknya gunakanlah kendaraan umum. Jika jarak dekat, cukup dengan menggunakan sepeda atau jalan kaki saja. Emisi gas rumah kaca dari transportasi juga dapat dicegah dengan beralih ke sumber energi alternatif yang ramah lingkungan, seperti biogas dan listrik. Biogas adalah bahan bakar alternatif yang sangat baik dan ramah bagi lingkungan, karena emisinya sama sekali tidak menimbulkan gas rumah kaca. Sementara energi listrik dapat dikembangkan dengan pembuatan teknologi transportasi hijau seperti mobil hibrida listrik yang sangat ramah lingkungan, hemat energi, efisien, dan bersih.
4. Jalankan 4R!! Yaitu Reduce, Reuse, Recycle, n Remember. Reduce dapat dilakukan dengan menghemat energi dan SDA seperti di atas. Reuse dapat dilakukan dengan penggunaan kembali barang-barang yang sudah dipakai seperti kantong belanja. Recycle dapat dilakukan dengan mendaur ulang kembali benda-benda bekas yang dapat di daur ulang seperti aluminium, plastik, dan kertas. Remember dapat dilakukan dengan saling mengingatkan dan memberitahukan kepada teman, saudara, dan orang tua kita akan pentingnya menyelamatkan bumi ini dari perubahan iklim.
5. Bertindaklah Hijau!! Upaya yang paling penting adalah bertindak hijau.
Tindakan hijau dapat dilakukan dengan menggalakan program konservasi alam yakni konservasi hutan. Kenapa konservasi hutan? Karena konservasi hutan merupakan satu-satunya bentuk dari upaya konservasi alam dimana konservasi hutan ini dapat berkontribusi langsung terhadap kembali stabilnya perubahan iklim di muka bumi. Hal tersebut tentunya akan sangat baik bagi tercapainya seluruh upaya konservasi alam yang ada di bumi ini. Oleh sebab itu, mulai detik ini ayo kita jalankan program konservasi hutan dengan cara melindungi ekosistem hutan dari penebangan dan pengrusakan. Kita juga dapat mewujudkan itu semua dengan cara reboisasi dan penanaman pohon satu orang satu, atau istilahnya adalah “ONE MAN ONE TREE”.
Dengan menjalankan program konservasi hutan ini kita telah turut membantu dalam menjaga, melestarikan, dan menyelamatkan alam bumi dari perubahan iklim yang membawa pada kehancuran dan kepunahan.
Bagaimana, sudah dapat jawabannya? Siapa sebenarnya yang menang dan kalah dalam peperangan ini? Tentunya itu tergantung dari bagaimana kita menyikapi itu semua. Intinya, jika kita terus berbuat kerusakan terhadap alam ini dan mengabaikan pentingnya konservasi alam yakni konservasi hutan sebagai penangkal dari adanya perubahan iklim, maka pihak yang akan menang adalah perubahan iklim. Sementara konservasi alam akan mengalami kekalahan yang berakibat pada rusak dan terganggunya seluruh upaya pelestarian alam di bumi ini. Akan tetapi, jika kita menyikapi masalah ini dengan penuh kesadaran akan pentingnya konservasi alam sebagai solusi dari perubahan iklim, sehingga kita mengupayakan berbagai macam tindakan positif seperti melakukan program konservasi hutan yang didukung oleh adanya upaya Mitigasi dan Adaptasi. Maka pihak yang akan menjadi pemenang adalah konservasi alam. Sementara perubahan iklim akan mengalami kekalahan dan kehancuran yang berakibat kepada tercapainya upaya pelestarian alam, sumber daya alam, keanekaragaman hayati, dan ekosistem alam yang berkontribusi pada kehidupan di bumi ini yang aman, nyaman, dan tentram.
Oleh karena itu, mari kita laksanakan program “4 EFFORT, SAVE THE EARTH” untuk dapat menyelamatkan bumi kita tercinta ini dari kejamnya pemanasan global dan sadisnya perubahan iklim. Saatnya Bertindak Hijau, Demi Keselamatan Bumi di Masa Depan. Read More
Domisili : Desa Sukaraja Kec. Sukaraja Kab. Bogor – jawa Barat
Perubahan Iklim VS Konservasi Alam
Melihat judul di atas kita tentu akan bertanya-tanya mengapa perubahan iklim diLAWANkan dengan konservasi alam. Hal ini tentu saja bukan tanpa alasan. Setelah ditelaah lebih jauh mengenai dampak dari perubahan iklim, ternyata perubahan iklim memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap konservasi alam. Begitu juga sebaliknya. Konservasi alam juga mempunyai peranan penting yang ternyata dapat mempengaruhi perubahan iklim yang hadir di bumi kita tercinta ini. Lalu apakah sebenarnya pengaruh itu ? Dan bagaimanakah pengaruh itu bisa terjadi ? Kira-kira siapakah yang akan menang dari peperangan ini, perubahan iklim, ataukah konservasi alam? Untuk mengetahui jawabannya mari kita bahas uraiannya satu persatu berikut ini.
Perubahan iklim merupakan suatu keadaan dimana pola iklim dunia berubah secara drastis dan tajam. Hal tersebut menyebabkan terciptanya berbagai macam fenomena cuaca yang sangat kacau dan ekstrim. Seperti curah hujan yang tinggi dan tak menentu, cuaca panas yang terus mengalami peningkatan, aliran panas dan dingin yang ekstrim di siang dan malam hari, tiupan angin yang sangat kencang, topan badai yang besar, temperatur musim dingin yang tinggi, dan lain sebagainya.
Perubahan iklim sangat berkaitan erat dengan namanya pemanasan global dan efek rumah. Karena pemanasan global-lah yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim dan pemanasan global terjadi akibat dari adanya efek rumah kaca. Hal tersebut menjadikan ketiganya tidak mungkin dipisahkan dan menjadi kontributor terbesar sebagai sumber dari adanya pengrusakan dan penghancuran kehidupan di muka bumi ini.
Pemanasan global adalah proses meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat dari adanya peningkatan efek rumah kaca yang sangat tinggi di muka bumi. Efek rumah kaca sendiri adalah proses pemanasan permukaan suatu benda langit, dalam hal ini planet bumi, akibat dari naiknya konsentrasi gas-gas rumah kaca yakni karbon dioksida (CO2), Metana (CH4), Uap air, Nitrogen Monoksida (NO), Dinitrogen oksida (N2O), dan Kloroflourokarbon (CFC) di atmosfer. Disebut efek rumah kaca dan gas rumah kaca disebabkan karena cara kerja efek rumah kaca tersebut mirip sekali dengan cara kerja gas-gas rumah kaca yang ada dalam sebuah rumah kaca atau greenhouse. Pada mulanya panas matahari yang dipancarkan ke bumi akan diserap oleh bumi dan sebagian panas lainnya akan dipantulkan kembali ke atmosfer dalam bentuk radiasi infra merah. Akan tetapi karena adanya penumpukan gas-gas rumah kaca di atmosfer, radiasi infra merah akan diserap kembali oleh gas rumah kaca tersebut untuk selanjutnya dipantulkan kembali ke permukaan bumi dalam bentuk gelombang panas sehingga membuat panas yang dipantulkan kembali ke bumi itu akan tersimpan di permukaan bumi dan menjadikan suhu permukaan bumi semakin panas dan meningkat.
Efek rumah kaca ini sebagian besar terjadi berkat adanya aktifitas manusia yang tidak ramah lingkungan. Aktifitas manusia yang tidak ramah lingkungan itu menyebabkan munculnya emisi gas-gas rumah kaca yang berkonsekuensi pada peningkatan efek rumah kaca sehingga menimbulkan terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim. Lagi-lagi manusia menjadi dalang, sumber, dan penyebab dari semua masalah lingkungan yang terjadi saat ini. Aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan yang memunculkan keluarnya emisi gas rumah kaca ke atmosfer antara lain dapat bersumber dari adanya peternakan, pembakaran bahan bakar fosil dan organik, transportasi, listrik, alat-alat elektronik, pembusukan limbah organik, lahan pertanian, dan perambahan hutan.
Industri peternakan merupakan penyumbang terbesar naiknya efek rumah
kaca di muka bumi ini. Peternakan menghasilkan emisi gas rumah kaca terbesar dengan persentase 18%. Selain itu peternakan bertanggungjawab atas sedikitnya 51% dari pemanasan global. Emisi gas rumah kaca dari industri peternakan meliputi 9% CO2, 37% CH4, 65% N2O dan sisanya adalah amonia dan CFC. Emisi gas rumah kaca tersebut berasal dari kotoran dan sendawa ternak, umumnya hewan mamalia berupa sapi, domba, atau kambing. Tidak hanya itu, pupuk yang digunakan untuk menyuburkan lahan peternakan itu, alat pendingin kulkas yang digunakan untuk menyimpan daging dan susu, serta bahan bakar fosil seperti minyak dan bensin yang mendukung industri peternakan itu juga menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca yang patut diperhitungkan.
Bahkan diketahui bahwa, untuk proses pembuatan daging sapi 1 Kg, menghasilkan emisi CO2 sebesar 36,4 Kg. 24 kali lipat lebih besar dari emisi CO2 untuk proses pembuatan 1 porsi sayur dan nasi. Hal tersebut menyebabkan emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan peternakan jauh melebihi dari emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan oleh seluruh transportasi di dunia. Emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan oleh transportasi di seluruh dunia memiliki persentase 13% dengan jenis emisi gas berupa CO2. Sementara pembakaran bakar fosil dan organik seperti minyak bumi, batu-bara, limbah padat dan kayu cukup berkontribusi besar terhadap pemanasan global saat ini juga.
Penyumbang lain yang juga meningkatkan suhu rata-rata permukaan bumi kita adalah pemakaian alat-alat listrik, elektronik dan parfum. Pemakaian alat elektronik seperti ac dan kulkas, juga alat pewangi seperti parfum, akan menghasilkan emisi CFC yang akan merusak dan mengurangi lapisan ozon bumi kita. Begitu pula dengan pembusukan limbah organik di tempat pembuangan sampah (landfill) yang berupa kotoran, penggunaan alat-alat pertanian seperti pupuk dan pestisida di lahan pertanian, serta kegiatan perambahan hutan yang besar-besaran akan mengakibatkan kenaikan efek rumah kaca yang parah. Di ketahui bahwa pembusukan kotoran akan menyumbang gas rumah kaca sebesar 7% dari total emisi gas rumah kaca. Sementara emisi N2O yang dihasilkan dari pertanian menyumbang gas rumah kaca sebesar 65%.
Perambahan hutan sampai saat ini diketahui menjadi masalah dan penyebab paling parah terhadap berubahnya iklim dan rusaknya bumi ini. Kegiatan penggundulan hutan akibat aktivitas manusia yang tak ramah lingkungan dan semena-mena terhadap alam akan membuat kadar gas-gas rumah kaca di udara akan terus meningkat dan bertambah banyak. Hal tersebut terjadi karena hutan yang berfungsi sebagai penyerap gas-gas CO2 telah lenyap dan mati. Kematian hutan ini juga akan mendorong keluarnya gas-gas CO2 dari dalam tubuh pohon yang menyebabkan peningkatan terus-menerus gas rumah kaca. Penggundulan hutan ini lagi-lagi banyak disebabkan karena adanya industri peternakan. Manusia menebangi hutan untuk dijadikan pakan ternak dan ladang untuk merumput industri ternak. Salah satu bukti dari adanya masalah ini adalah penggundulan hutan di Brasil yang mencapai 80%. Hal ini tentu saja tidak boleh terjadi.
Perlu diketahui bahwa fungsi hutan tidak hanya sebagai penyerap karbon, tapi juga sebagai sebuah ekosistem alam tempat makhluk hidup di dalamnya bernaung. Seperti flora dan fauna. Flora dan fauna di hutan sangat beranekaragam jenisnya. Inilah yang dinamakan dengan keanekaragaman hayati. Kita wajib menjaga keanekaragaman hayati ini sebagai bagian dari kehidupan dan kekayaan alam yang sangat penting bagi manusia.
Oleh sebab itu, mari kita jaga dan lestarikan ekosistem hutan kita agar tidak rusak apalagi punah. Hal tersebut bisa kita lakukan dengan menggalakan program konservasi hutan yang baik dan berkelanjutan. Dengan menggalakan program ini kita dapat menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca di atmosfer bumi. Sehingga membuat pemanasan global akan berkurang dimana ini akan berkontribusi pada perubahan iklim yang kembali normal. Hal tersebut tentu saja akan menjadikan alam bumi yang kita cintai ini akan tetap lestari dan aman. Semua bentuk upaya konservasi alam baik yang berupa sumber daya alam hayati ataupun ekosistem dan habitat akan tetap terjaga kelestariannya.
Akan tetapi, ini semua tidak akan terjadi bila kita manusia masih tetap melakukan penebangan hutan secara besar-besaran. Sekalipun konservasi hutan telah digalakan, jika kita manusia masih saja berbuat onar terhadap lingkungan dengan melakukan pengrusakan hutan serta diimbangi oleh kegiatan-kegiatan tidak ramah lingkungan, maka dampak yang akan terjadi adalah perubahan iklim yang akan merusak seluruh upaya konservasi alam di muka bumi ini. Jika ini benar terjadi, seluruh ekosistem dan sumber daya alam hayati yang ada di bumi akan hancur binasa. Termasuk ekosistem hutan yang sangat penting untuk menjaga keanekaragaman hayati dan bumi kita tercinta ini.
Dampak perubahan iklim dan pemanasan global yang terjadi terhadap upaya konservasi alam dapat dibagi ke dalam 3 kategori, yaitu konservasi sumber daya alam, konservasi keanekaragaman hayati, dan konservasi ekosistem habitat.
KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM
Perubahan iklim ternyata memberikan dampak yang besar terhadap upaya pelestarian sumber daya alam berupa air, tanah, dan udara. Hadirnya berbagai macam fenomena cuaca yang ekstrim seperti cuaca yang panas, memberikan efek terjadinya kekeringan di mana-mana. Di kota-kota besar banyak sekali sumber air tawar seperti air tanah yang mengering dan habis. Hal tersebut tentu menyebabkan krisis air terjadi di berbagai belahan dunia. Akibatnya, manusia sangat sulit mendapatkan akses air bersih untuk digunakan dalam keperluan sehari-hari seperti minum, mandi, memasak, mencuci, sanitasi dan lain sebagainya. Tidak hanya itu, bencana banjir yang sering terjadi akhir-akhir ini juga menyebabkan sumber-sumber air tawar banyak sekali yang tercemar. Salah satu bukti dari adanya pengaruh perubahan iklim ini adalah berkurangnya sumber air sungai di Vietnam sebesar 50% dari tahun lalu. Tidak hanya air, akan tetapi tanah dan udara juga banyak sekali yang tercemar akibat dari perubahan iklim ini. Hal ini jelas sangat berbahaya mengingat air, tanah, dan udara merupakan sumber vital bagi kehidupan di muka bumi ini.
KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI
Perubahan iklim juga berpengaruh besar terhadap konservasi keanekaragaman hayati di bumi ini. Banyak sekali hewan dan tumbuhan yang mati bahkan punah akibat dari masalah ini. Pemanasan global yang terjadi telah menekan berbagai macam spesies flora dan fauna untuk dapat beradaptasi dengan iklim yang sesuai. Temperatur udara yang terus naik membuat spesies-spesies yang tinggal di pegunungan, harus bermutasi ke daerah yang lebih tinggi agar mampu bertahan hidup. Akan tetapi hanya sedikit sekali spesies yang dapat bertahan hidup dari situasi seperti itu. Sementara spesies yang lainnya pada punah dan mati. Sebenarnya, spesies hidup saling bergantungan dengan spesies lain. Seandainya banyak spesies yang punah, maka hal itu akan sangat merusak ekosistem yang berdampak kepada punahnya spesies-spesies lain lebih banyak lagi.
Selain itu, efek pemanasan yang terus meningkat, akan menyebabkan spesies-spesies hewan cenderung bermigrasi ke arah kutub atau pegunungan. Dalam hal ini mereka bisa mati karena terhalang oleh kota-kota dan lahan pertanian. Spesies yang tidak mampu pindah atau beradaptasi juga akan musnah. Berbagai macam spesies akan punah karena adanya perubahan ekosistem yang ekstrim. Seperti ekosistem hutan hujan tropis, yang jika rusak akan berdampak pada punahnya 50% jenis spesies hewan dan tumbuhan di planet ini. Jika es di kutub utara mengalami pencairan, maka spesies di kutub utara seperti beruang kutub dan karibau juga akan punah.
Bukti dari adanya dampak perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati antara lain, burung di Inggris mengalami penurunan yang drastis akibat dari kondisi cuaca alam yang sangat ekstrim di musim dingin. Selain itu banyak sekali batu karang beraneka warna dan karang putih yang berkurang di mana-mana. Banyak bagian karang Great Barrier (karang terbesar di dunia) yang mengalami pemutihan sudah mencapai 50% akibat dari memanasnya suhu lautan. Perubahan iklim juga mengakibatkan adanya peningkatan pertumbuhan bakteri di danau Arktik akibat ganggang yang membusuk. Peningkatan populasi bakteri tersebut telah mengurangi level sulfat air dan menyebabkan melepasnya metilmerkuri yang beracun ke dalam air. Hal tersebut menyebabkan ekosistem danau Arktik menjadi terganggu dan berdampak pada rusaknya perkembangan, reproduksi dan perilaku anjing laut dan paus beluga. Selain itu, kekeringan parah di sungai Amazon Brasil telah membuat populasi lumba-lumba merah muda yang langka menurun drastis sebanyak 47% hanya dalam setahun.
KONSERVASI EKOSISTEM HABITAT
Adanya perubahan iklim jelas akan berdampak pada terganggunya usaha pelestarian ekosistem dan habitat di muka bumi. Mencairnya es di laut Arktik menyebabkan samudera mudah menyerap sinar matahari, sehingga mempercepat pencairan permafrost (tanah beku), tutupan salju, gletser, dan es laut. Dimana permafrost akan melepas gas metana hidrat yang beracun dan menyebabkan panas yang lebih parah yang akan menimbulkan hancurnya ekosistem laut dan pantai. Permafrost ini sewaktu-waktu dapat meledak menjadi banjir lautan api raksasa yang akan menimbulkan kepunahan sebagian besar kehidupan spesies laut dan darat sebesar 70%-90%.
Tidak hanya ekosistem laut dan pantai, akan tetapi perubahan iklim juga mempengaruhi banyak sekali ekosistem, seperti ekosistem danau, hutan, daratan rendah, pegunungan, rawa gambut dan lansekap (bentang alam). Konservasi habitat untuk flora dan fauna seperti suaka alam, cagar alam, dan taman hutan raya juga akan mengalami gangguan akibat dari adanya berbagai bencana alam seperti banjir, badai, angin topan, longsor dan lain-lain.
Jika ekosistem-ekosistem ini sampai rusak terutama untuk ekosistem hutan yang sangat penting untuk kehidupan di bumi ini, maka konsekuensi yang dapat diterima selain punahnya spesies adalah terjadinya perubahan iklim yang semakin parah yang sangat mengancam seluruh kehidupan makhluk hidup di bumi ini. Hal ini tentu saja tidak boleh terjadi. Oleh karena itu, sudah saatnya kita manusia bertindak dan menyelamatkan bumi ini agar tetap lestari. Kita jangan hanya berdiam diri saja dan menonton orang-orang yang sedang kesusasahan di luar sana akibat dari dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim. Sudah saatnya kita sadar, akan pentingnya bumi ini bagi kelestarian makhluk hidup di dunia. Mulailah dengan introspeksi diri dan memotivasi diri sendiri untuk dapat berubah menjadi manusia teladan sehingga kita mampu menyelamatkan bumi ini untuk masa depan kita dan anak cucu kita.
Kita dapat menyelamatkan bumi ini dengan melakukan “4 Effort, Save The Earth”. Dalam B.Indonesia artinya “4 USAHA, Selamatkan Bumi”. 4 usaha itu yakni Adaptasi, Mitigasi, Teknologi, dan Konservasi.
Adaptasi adalah suatu proses untuk memperkuat dan membangun strategi antisipasi dampak dari perubahan iklim serta melaksanakannya sehingga mampu mengurangi dampak negatif dan mengambil manfaat positifnya. Mitigasi adalah usaha pengendalian untuk mengurangi resiko akibat perubahan iklim melalui kegiatan yang dapat menurunkan emisi atau meningkatkan penyerapan gas-gas rumah kaca dari berbagai sumber emisi. Teknologi adalah upaya rekayasa suatu perangkat yang dilakukan baik dalam upaya adaptasi dan mitigasi yang mengarah pada perbaikan mutu lingkungan hidup. Konservasi adalah upaya perlindungan dan pengelolaan terhadap lingkungan dan sumber daya alam, agar tetap lestari sehingga dapat membantu kehidupan makhluk hidup di bumi.
Upaya adaptasi untuk dapat mengurangi dampak dari perubahan iklim, dapat dilakukan dengan berbagai cara. Seperti di pantai, kita dapat mengatasi kerusakan pantai dengan membuat suatu dinding penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Seandainya pantai sudah mengalami kerusakan yang parah, pemerintah dapat membantu populasi manusia di pantai untuk segera dipindahkan ke daerah yang lebih tinggi. Upaya penyelamatan satwa juga dapat dilakukan dengan cara tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya dengan baik. Karena spesies dapat perlahan-lahan berpindah menuju habitat yang lebih dingin. Untuk mencegah adanya dampak yang besar akibat dari mencairnya es di kutub utara dan selatan, pemerintah sebaiknya segera mengosongkan tanah yang belum di bangun di kutub utara dan selatan. Selain itu, untuk mengurangi dampak dari banyaknya bencana yang terjadi akibat perubahan iklim, para pakar teknologi sebaiknya membuat sebuah teknologi baru untuk dapat memonitoring bencana-bencana yang mungkin akan terjadi.
Upaya mitigasi untuk dapat menyelamatkan bumi dari perubahan iklim, dapat di lakukan sebagai berikut:
1. Jadilah Seorang Vegan!! Saatnya kita mengubah gaya dan pola hidup kita menjadi lebih efektif, gembira, dan sehat dengan menjalani pola makan vegan organik yang bebas dari konsumsi daging, susu, dan bahan hewani lainnya. Dengan menjadi vegan dan bergaya hidup vegetarian, kita telah menyelamatkan bumi dari perubahan iklim akibat dari adanya industri peternakan.
2. Terapkan Prinsip Hemat!! Saatnya kita berhemat dalam menggunakan energi dan sumber daya alam. Kita dapat menghemat energi dengan mencari energi baru seperti energi matahari dan nuklir. Dengan menggunakan energi terbaharui seperti energi nuklir, kita telah membantu mengurangi gas rumah kaca di bumi. Karena energi nuklir tidak melepaskan gas CO2 sama sekali. Selain itu kita juga harus membudayakan hidup hemat dalam menggunakan listrik dan sumber daya alam di muka bumi. Mulailah menggunakan alat-alat listrik hemat energi seperti pada lampu dan alat-alat listrik lainnya. Sudah saatnya kita juga menghemat penggunaan air dan kertas dengan memanfaatkannya secara bijaksana dan sehemat mungkin.
3. Go Ramah Lingkungan!! Mari kita jalani hidup ini dengan memprioritaskan hidup yang ramah lingkungan dan bersih. Sudah waktunya kita mengurangi gas-gas rumah kaca dengan melakukan aktivitas ramah lingkungan, seperti menghindari penggunaan plastik, membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan parfum, ac, dan kulkas yg beremisi gas CFC, dan bijaksana dalam menggunakan transportasi. Jika kita hendak bepergian jauh sebaiknya gunakanlah kendaraan umum. Jika jarak dekat, cukup dengan menggunakan sepeda atau jalan kaki saja. Emisi gas rumah kaca dari transportasi juga dapat dicegah dengan beralih ke sumber energi alternatif yang ramah lingkungan, seperti biogas dan listrik. Biogas adalah bahan bakar alternatif yang sangat baik dan ramah bagi lingkungan, karena emisinya sama sekali tidak menimbulkan gas rumah kaca. Sementara energi listrik dapat dikembangkan dengan pembuatan teknologi transportasi hijau seperti mobil hibrida listrik yang sangat ramah lingkungan, hemat energi, efisien, dan bersih.
4. Jalankan 4R!! Yaitu Reduce, Reuse, Recycle, n Remember. Reduce dapat dilakukan dengan menghemat energi dan SDA seperti di atas. Reuse dapat dilakukan dengan penggunaan kembali barang-barang yang sudah dipakai seperti kantong belanja. Recycle dapat dilakukan dengan mendaur ulang kembali benda-benda bekas yang dapat di daur ulang seperti aluminium, plastik, dan kertas. Remember dapat dilakukan dengan saling mengingatkan dan memberitahukan kepada teman, saudara, dan orang tua kita akan pentingnya menyelamatkan bumi ini dari perubahan iklim.
5. Bertindaklah Hijau!! Upaya yang paling penting adalah bertindak hijau.
Tindakan hijau dapat dilakukan dengan menggalakan program konservasi alam yakni konservasi hutan. Kenapa konservasi hutan? Karena konservasi hutan merupakan satu-satunya bentuk dari upaya konservasi alam dimana konservasi hutan ini dapat berkontribusi langsung terhadap kembali stabilnya perubahan iklim di muka bumi. Hal tersebut tentunya akan sangat baik bagi tercapainya seluruh upaya konservasi alam yang ada di bumi ini. Oleh sebab itu, mulai detik ini ayo kita jalankan program konservasi hutan dengan cara melindungi ekosistem hutan dari penebangan dan pengrusakan. Kita juga dapat mewujudkan itu semua dengan cara reboisasi dan penanaman pohon satu orang satu, atau istilahnya adalah “ONE MAN ONE TREE”.
Dengan menjalankan program konservasi hutan ini kita telah turut membantu dalam menjaga, melestarikan, dan menyelamatkan alam bumi dari perubahan iklim yang membawa pada kehancuran dan kepunahan.
Bagaimana, sudah dapat jawabannya? Siapa sebenarnya yang menang dan kalah dalam peperangan ini? Tentunya itu tergantung dari bagaimana kita menyikapi itu semua. Intinya, jika kita terus berbuat kerusakan terhadap alam ini dan mengabaikan pentingnya konservasi alam yakni konservasi hutan sebagai penangkal dari adanya perubahan iklim, maka pihak yang akan menang adalah perubahan iklim. Sementara konservasi alam akan mengalami kekalahan yang berakibat pada rusak dan terganggunya seluruh upaya pelestarian alam di bumi ini. Akan tetapi, jika kita menyikapi masalah ini dengan penuh kesadaran akan pentingnya konservasi alam sebagai solusi dari perubahan iklim, sehingga kita mengupayakan berbagai macam tindakan positif seperti melakukan program konservasi hutan yang didukung oleh adanya upaya Mitigasi dan Adaptasi. Maka pihak yang akan menjadi pemenang adalah konservasi alam. Sementara perubahan iklim akan mengalami kekalahan dan kehancuran yang berakibat kepada tercapainya upaya pelestarian alam, sumber daya alam, keanekaragaman hayati, dan ekosistem alam yang berkontribusi pada kehidupan di bumi ini yang aman, nyaman, dan tentram.
Oleh karena itu, mari kita laksanakan program “4 EFFORT, SAVE THE EARTH” untuk dapat menyelamatkan bumi kita tercinta ini dari kejamnya pemanasan global dan sadisnya perubahan iklim. Saatnya Bertindak Hijau, Demi Keselamatan Bumi di Masa Depan. Read More















Print this page






